01/04/11

“Manisanku hilang, manisanku datang”

zzzzzzttt.....zzzzzzzztttt...!!!!!

Suasana kelas begitu ramai, beberapa ekor manusia sudah masuk keruangan yang akan kami tempati selama 3 hari kedepan. Namun, tak terlihat ada ada batang hidung dosen nampak disitu.


“mungkin sospem ini akan sangat ramai seperti dipasar hewan tempatku...!!!” pagi ini aku memang merasakan diriku seperti kambing. Aku sangat lapar, dan belum sempat sarapan. Penyebabnya adalah kelamaan ngantri mandi(baca blog www.komunikasioce.blogspot.com: sejarah nama facebook). Maklum, aku dan 12 orang temanku masih belum dapet kos. Untunglah ada kakak kelas yang bersedia memungut dan memelihara kami dikontrakan Sapen. (Disitu, kamar mandi cuma ada satu).

Dari atas lantai dua, aku melihat lihat daun-daun hijau segar disekitar lokasi kampus. Naluri kekambing- anku muncul. Ingin sekali ku memakannya, tapi aku sadar itu tak steril..


“Membosankan, menyebalkan....!!!! kenapa tak ada orang yang kukenal sama sekali disini...!!!”

aku berdiri bersandar tembok, menerawang ke jendela. Pandanganku masih sama, melihat ke taman fishum yang dipenuhi rumput-rumput dan tumbuhan hijau. Sekali kagi, aku menelan ludahku sendiri.


Aku ngeluarin lolipop yang di kantong celanaku sebelah kiri. Tak ada. Aku meraba lagi kantong sebelah kanan.


“kenapa bisa nggak ada???”

“Sepertinya kemaren aku narohnya bener di kantong deh??”


Aku mencoba membenahi cerebrum otakku. Caranya, menginterfensi otak dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mengurutkan kejadian mulai dari kemaren hingga awal berangkat kuliah.


“mandi??? pasti nggak mungkin bawa lolipop”.


“pake celana??? juga nggak mungkin bawa lolipop, soalnya kedua tangan pasti lebih konsentrasi ngangkat celana..


“ketinggalan di wc??? Lebih tak masuk akal..


aku mengingat kembali,aku tidak mungkin bawa lolipop di kamar mandi maupun dikamar. Tadi pagi sebelum aku berangkat ke kampus, lolipop itu sepertinya sudah nggak ada di kantong. Aku mencoba bertanya pada otakku.


“Wahai otak..Kapan terakhir kali aku pegang lolipop???”

Aku menunggu selama lima menit, tapi ia belum juga ngedapetin jawabannya..


“Alaaahh, kelama’an...!!!!! dasar otak pentium 1...!!!”


Gara-gara aku ngomong gitu ke otakku, ia sedikit sedikit mau bereaksi..ia ngasih jawaban ke aku..


“Wahai kau anak mudaaa..!!! yang jelas, kamu membeli lolipop itu kemaren pagi. Kamu membelinya di toko sapen, sebelah kiri warung ayam bakar yang enak ituuu...!!!”


“Trus..trus..gimana mbaaahh...!!!” aku semakin penasaran dengan lanjutannya.


“sebentar, simbah tak mikir dulu...!!!!”



nunggu lagi sekitar lima menit. Padahal kelas sudah agak ramai karena sospem akan segera dimulai. Beberapa mahasiswa yang akan masuk ruangan, bengong ngelihat aku ngomong sendiri dengan otakku.


“gimana mbah, lanjutan ceritanya? jika diruntutkan lagi, mungkin akan ketemu cerita kapan terakhir aku pegang lolipop...ayo mbah, bentar lagi masuk kelas niiiihhh...!!!!”


“maaf anak muda, sepertinya otakku cuma nyampe’ segitu ceritanya. Selebihnya cari sendiri reverensinya di perpustakaan..

Sepertinya bukannya membaik, tapi otakku tambah error..

(Simbah : Sebutan untuk otakku ternyata juga punya otak lagi untuk berfikir, dan otak punya simbah malah lebih parah errornya dari simbah..)



“alah, mungkin jatuhh...!!!”kesimpulan yang kubuat sendiri dan tak kuperdulikan...


Aku segera bergegas masuk keruangan tempat sospem. Seorang dosen masuk, ternyata dosen cowok. Sirna sudah harapanku untuk melihat dosen cantik. Aku sama sekali tak berminat dengan dosen itu. Tapi setelah aku mendongak dan menajamkan pandanganku. Ada sesuatu yang unik dari dosen tersebut. jenggotnya jarang jarang, sepertinya memang rontok..

wajahnya itu, mengingatkanku pada seseorang.


“mirip siapa yahh???”sepertinya ada hubungannya dengan lolipopku..


Aku semakin bersemangat untuk berfikir. Tangan kananku menggaruk kepala, tangan kiri diemut-emut..(cacingan??aku tak peduli,bagiku menghilangkan lolipop adalah kesalahan terbesar dalam hidupku karena akibatnya aku akan mengemut sendiri jemariku seperti tadi. Seperti pecandu lolipop beneran).


aku kembali ingat, dijalan itulah aku kehilangan lolipopku..


“ya,anak kecil itu..!!!!” aku ingat kejadian mengerikan itu..


kemarin siang, ketika aku turun dari tangga kompleks gowok, sebelah sungai gajahwong, seorang anak kecil bertubuh bulet kekar hitam legam mengkilat berbau amis tanpa baju menodongku.


“Kak, minta uang Kak...!!!!” ia langsung mengeluarkan jurusnya, jurus babi mefet mefet..


“hhhhhhh..jijaaayy....!!!! aku menjauhinya, kakiku segera mundur dua langkah.


“Minta uang dong Kak,seribuuuu aja..!!! buat jajan”. Ia sangat memelas.


Ia terus saja mengeluarkan jurusnya, jurus babi mefet-mefet. Membuat aku harus kembali mundur selangkah. Aku tak mau baju putihku ternoda gara-gara ditempelin parasit berkerak.


“Kaaaakkk,mau ngasih nggak??? Kalau nggak, aku akan nangis dan teriak sekenceng-kencengnya, dan bilang ke semua orang kalo kakak itu PE-LIT...!!!”


kata terakhir yang dipenggal itu membuat kupingku terbakar.


Ia maju selangkah..

Kini aku hanya berjarak 5 cm dari preman cilik itu. Aku menutup hidung dan gelagapan. Bau belerang tercium jelas dalam radius sedekat itu. Aku baru sadar, ternyata aku dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Aku terpojok, di radius 7,5 cm dari tepi sungai. Mundur sama saja dengan bunuh diri. Terpaksa, aku ngambil jalan diplomasi.


“Aku ngga punya receh dek..!!!”, kali ini gantian aku yang memelas.


“Yeee..siapa yang minta receh??? Aku cuma minta seribu Kak...!!! uang receh sekarang itu dapet apa?? Rokok ecer aja nggak dapet..!!!”


Baru kali ini aku nemuin anak kecil yang rewelnya minta ampun kayak ini. Udah minta, ngancem orang, matok harga lagi..


“Sudah dibilangin, aku ngga punya uang kecil..!!!”


Aku merogoh saku celana itemku.


“Ni ada permen lolipop. Ku bayar pake ini aja ya???”,ini penawaran terakhirku. Soalnya aku memang benar-benar lagi nggak punya uang kecil.


“Deal or no deal???”


“Deal or no deal???”


Anak itu masih saja tak paham.


“Heeeii cah cilik??? Paham ga sihh...!!!!”aku jadi sedikit emosi dan muncrat.

Ia hanya manggut manggut...


“Gitu donk...!!!”


Setelah kukasih permen itu, anak itu nyengir kaarahku.


“Makasih Kak..!!!”



Ternyata preman cilik itu imut juga. Ia hanya tertutup oleh penampilan awut-awutan dan tak terawat. Aku nyubit pipinya yang agak bulet. Ternyata tak seburuk yang kubayangkan. Setelah itu, anak tersebut langsung ngacir.

Senang rasanya ketika melihat anak tersebut tersenyum.



begitulah aku, terlalu banyak mikir hal-hal nggak pentinglah yang menyebabkan gejala lemot otak stadium 4..tapi, aku puas karena aku sudah menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan yang dari tadi kupikirkan. Lebih puas lagi, aku bisa membuat anak itu tersenyum.


------------- ++++++ ----------------



Kini aku menghadapi alam nyata, bukan lagi alam pikiran. Bukan lagi tentang lolopop dan anak parasit. Kelas hening. Aku berada di antara makhluk-makhluk asing. Disebelah kiri tempat aku duduk sekarang malah terlihat jelas seseorang bermuka seperti alien dari planet tak dikenal. Belakangan kuketahui namanya ***** dari planet LA. Dialah orang pertama dikelas itu yang kukenal. Aku menatap sekeliling. Pandanganku kuarahkan ke semua penjuru kelas. Benar-benar seperti patung hidup. Aku menatap jauh kearah lain. Ada sesuatu yang membuat kepalaku berhenti berputar dan berkata STOP...!!!

Seorang cewek agak item namun manis duduk dengan sudut elevasi 45 derajat dari tempatku duduk. Manisan warna ungu. Dia adalah orang kedua yang mencuri pandanganku setelah alien jelek itu.

Kemaren aku memang kehilangan manisan lolipop, tapi hari ini Tuhan membalasku dengan memberi manisan yang lebih besar lagi. Manisan yang jutaan kali lipat lebih manis dan lebih indah dari lolipop itu. Manisan yang tak pernah bisa habis. Ia sangat pendiam. Namun, sekali melihatnya...aku langsung yakin, suatu saat nanti," ia akan bersinar mengalahkan sinar sang mentari..."







Tidak ada komentar: